Indonesia Search Engine

Friday, September 30, 2011

KERACUNAN MAKANAN


AKIBAT KERACUNAN MAKANAN

            Makanan adalah kebutuhan pokok manusia yang diperlukan setiap saat dan harus ditangani dan dikelola dengan baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh. Pengelolaan yang baik dan benar pada dasarnya adalah mengelola makanan berdasarkan kaidah-kaidah dari prinsip hygiene dan sanitasi makanan.
            Keamanan makanan merupakan kebutuhan masyarakat, karena makanan yang aman akan melindungi dan mencegah terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan lainnya. Makanan yang baik adalah makanan yang bergizi yang dibutuhkan oleh setiap mahluk hidup, termasuk manusia. Zat gizi selain diperlukan oleh manusia, juga dibutuhkan oleh bateri, karena itu makanan yang tercemar bakteri mudah menjadi rusak.
            Bakteri tumbuh dan berkembang biak dalam makanan. Pada waktu tumbuh bakteri menghasilkan racun di luar tubuhnya, racun itu membaur dalam makanan. Pada umumnya racun yang dihasilkan lebih tahan panas dari pada bakteri itu sendiri.
            Menurut Drs.Dedi Sofian Msi, Kasubdin Farmasi & Makanan Dinkes Serang, jenis bakteri penyebab instoxinasi makanan adalah Clostridium botulinum, Staphylococcus aureus dan Pseudomonas cocovenenas.
            Apa itu Clostridium botulinum? Menurut Dedi, bakteri yang menyandang nama Latin itu merupakan penyebab terjadinya keracunan. Sedangkan keracunan yang disebabkan oleh bakteri disebut batulism.. Racun yang dihasilkan dapat menyebabkan kematian. Gejalanya mula-mula gangguan pencernaan yang akut, mual, muntah, diare, lemah fisik dan mental, pusing dan sakit kepala. Pandangan berubah menjadi dua, sulit menelan dan berbicara, otot-otot menjadi lumpuh dan kematian biasanya karena sulti bernafas.
            Dedi juga mengingatkan, pada kasus yang fatal, kematian dapat terjadi setelah 3-6 hari. Makanan kaleng sering menyebabkan botulism, antara lain daging manis, bit, asparagus dan bayam. Kemudian umumnya pada makanan yang berasam rendah dan sedang serta terjadi pada ikan asap.
            Untuk mencegah terjadi botulism, perlu menggunakan proses pemanansan yang cocok buat makanan kaleng. Membuang makanan kaleng yang telah menggelembung atau rusak. Tidak mencicipi makanan yang meragukan. Hindari makanan yang telah dimasak  terlalu lama dan tidak dipanaskan lagi. Dan yang terakhir, perlu mendidihkan makanan kaleng terutama yang mempunyai pH di atas 4,5 minimum selama 15 menit.
            Apa pula dengan Staphyloccus aureus? Menurut ahli farmasi dan makanan, penyakit yang disebabkan Staphylococcus aureus, biasanya disebut ‘Staph’. Bakteri tersebut sangat tahan panas. Rongga hidung manusia khususnya penderita sinusitis mengandung banyak staphyloccocci, demikian halnya dengan bisul dan luka bernanah merupakan sumber yang potensial. Sapi perah penderita mastitis (infeksi pada kambing) menularkan staphyloccocci ke dalam air susu.
            Menurut Dedi, gejala keracunan yang terjadi pada kasus ini banyak mengeluarkan ludah, mual, muntah, kejang perut, diare berdarah dan berlendir, sakit kepala, kejang otot, berkeringat dingin, lemas, nafas pendek dan suhu tubuh di bawah normal. Gejala ini berlangsung hingga 1-2 hari, tetapi jarang terjadi kematian.
            Cara mencegah terjadinya keracunan ini dengan mencegah pencemaran oleh stapphylocci. Yaitu menggunakan bahan makanan yang bebas kokus, misalnya menggunakan susu yang telah dipasteutrisasi. Selain itu, masuknya staphylococci ke dalam makanan antara lain dapat dihindari dengan cara mencuci tangan dengan sabun setelah keluar dari toilet. Sebelum memegang bahan makanan, tangan harus bersih. Karyawan bagian pengolahan makanan tidak berpenyakit kulit, luka dan batuk. Tidak makan, minum dan merokok selama mengolah makanan. Kuku terpelihara pendek, rambut di tutup dan menggunakan sarung tangan yang cocok.
            Bakteri Staphylococcus aureus yang telah masuk ke dalam bahan makanan, dapat dimatikan dengan pemanasan pada waktu di masak. Tetapi toksin yang dihasilkan hanya dapat terurai jika dilakukan pemanasan selama beberapa jam. Atau dipanaskan pada suhu 115 derajat selama 30 menit. Tetapi makanan yang dipanaskan pada suhu tersebut akan berubah tektur dan kandungan zat gizinya akan rusak/

No comments:

Post a Comment

berita nusantara

ShareThis

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...